Disadur dari Nuntia edisi Mei 2010
Tepuk Tangan Lagu Komuni
Tepuk Tangan Lagu Komuni
Sudah hampir menjadi tradisi di Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar atau juga di Gereja FX Kuta, umat tanpa dikomando akan bertepuk tangan sesudah koor menyanyikan lagu komuni. Dan juga seperti sebuah kebiasaan, koor memilih lagu yang paling meriah pada saat itu. Dirigen dengan sikap atraktif dan demonstratif mengundang tepuk tangan umat. Berikut sebuah surat dari Romo Franz Magnis Suseno SJ yang dimuat di majalah HIDUP edisi bulan Februari [...]
Perkenankan saya berbagi grundelan dengan para pembaca terhomat. Malam Natal saya konselebrasi dalam misa di salah satu Paroki. [...] waktu komuni suci dibagikan, seorang bapak dari koor dengan suara penyanyi profesional, menyanyi solo, sangat ekspresif. Sesudah selesai, umat penuh semangat bertepuk tangan. Pada saat komuni dibagi!...
Saya amat terkejut. Kok bisa! Komuni adalah peristiwa paling sakral bagi umat Katolik [...] Pada saat itu, seharusnya seluruh perhatian umat 100% terpusat pada Yesus, Allah beserta kita yang sedang datang. [...] Pastor Paroki kemudian menceritakan bahwa ia sudah memperingatkan umat tetapi tanpa hasil, dan pernah waktu itu mau memberikan hosti suci kepada umat,dia itu bertepuk tangan dulu.
Apa umat belum pernah membaca I Korintus 11:29? Terus terang, andaikata saya yang memimpin upacara, saya akan langsung menghentikan seluruh pembagian komuni dan mengajak umat untuk berdoa tobat. [...] Suatu kesesatan penghayatan yang memalukan apabila orang tidak bisa lagi membedakan antara ibadat yang diarahkan kepada Allah dan acara hiburan! Apakah dilupakan bahwa hormat dari semua pemeran dalam Ekaristi: pastor, pengkotbah, koor, umat, dll terletak dalam pelayanan tanpa pamrih, demi kemuliaan Tuhan, yang mereka berikan? Apakah koor kita lupabahwa tugas satu-satunya mereka adalah membuka hati umat bagi Tuhan dengan keindahan lagu lagu mereka. Tepuk tangan pada saat akhir Misa, yaitu pada saat pastor menyatakan terima kasih adalah saat tepat dan sesuai.
Sebagai catatan: lagu solo sebaiknya hanya diadakan pada akhir ibadat. Hal ini sepenuhnya juga berlaku bagi ekaristi perkawinan. Kalau perkawinan ditempatkan dalam Ekaristi, seluruh perayaan harus berupa pujaan terhadap Allah bukan pemanis para mempelai. Kalau iman kita pada Ekaristi mau Credible, kita harus belajar kembali menunjukkan sikap hormat terhadap Allah yang hadir.
Renungan seorang Danielle:
Kadang pada saat kita beribadah, godaan yang paling besar adalah apakah bobot Ibadah kita tersebut dinilai memang mencintai dan menghormati Allah atau hanya merupakan "Arogansi Rohani" semata. Kasus di atas menunjukkan bahwa fokus beribadah sudah bergeser. Gereja menjadi gedung opera, dan rangkaian ibadah seperti sebuah "pertunjukan" rohani. Dekorasi yang wah dan indah, koor yang atraktif, dll. Semua itu untuk apa? memuliakan Tuhan atau mendapat pujian? Jika umat ingin bertepuk tangan, baiklah mereka melakukannya di komunitas yang mengijinkan ini, komunitas karismatik katolik misalnya. Marilah kita mulai menghilangkan "Arogansi Rohani" dalam hati kita, karena jika demikian, maka di dalam hati kita telah tumbuh Fira'un Fira'un kecil, dan memiliki sifat jumawa berarti kita tidak ada bedanya dengan Kaum Farisi.

sependapat dengan renungan seorang Danielle, tersebut: bahwa telah terjadi "Arogansi Rohani" dengan mengedepankan beberapa hal yang lebih mengarah kepada perlakuan menunjukkan bahwa fokus beribadah sudah bergeser, Gereja menjadi gedung opera, dan rangkaian ibadah seperti sebuah "pertunjukan" rohani. Dekorasi yang wah dan indah, koor yang atraktif, dll. Semua itu untuk apa? memuliakan Tuhan atau mendapat pujian? Jika umat ingin bertepuk tangan, baiklah mereka melakukannya di komunitas yang mengijinkan ini,
ReplyDelete