Showing posts with label Curhits. Show all posts
Showing posts with label Curhits. Show all posts

Wednesday, February 23, 2011

My Journey on Val's Day (Betapa kamu sangat kapitalis! Valentine, aku benci kamu!)


Sepuluh tigapuluh wita:
Terbangun karena natural calls
Aaaah...ini hari liburku maka kemalasan menjadi halal
sebagai fungsionaris moderat, aku menilik hanphone: beberapa pesan senada Cinta

Ouw, Valentine? Lupa saya. Hehehehehe... (mungkin bukan budaya)

berkewajiban sosial untuk membalas: tik tik tik...sent!
beberapa rupiah menguap untuk ucapan cinta
Hmmmm...otak membuka file orang2 yang kusayangi (mantan pacar masuk hitungan? pssst! Rahasia!)
tik tik tik...sent! beberapa rupiah lagi menguap untuk cinta (berusaha tidak mengeluh)

Sebelas empat puluh wita:
keluar kamar bertemu bapak dan ibu: tidak ada ciuman hari valentine (sekali lagi mungkin bukan budaya)
Sambil ngemil kacang goreng & kopi, duduk di depan TV acara musik tematik CINTA
Ibu duduk di sebelah utak atik tuts HP kirim ucapan valentine ke teman2 (lho sama anaknya kok lupa?)

tik tik tik...sent! Yah...pulsa habis, gak bisa bales. Mama di transferin pulsa yaaa....(d'oh!)

duabelas limatujuh wita:
Tanpa mandi dan gosok gigi, masuk kamar lagi (ingat ini hari libur saya!)
buka leptop dengerin winamp: lagu CINTA melulu...sowatgituloh?
Sandy Sondoro feat Glen Fredly: Lets say LOVE! mendayu-dayu....

Teringat jadi korban Valentine limabelas tahun yang lalu....

Beli coklat mau yang spesial tapi mahal, coklat jago dianggap kampung (yang penting rasa coklat!)
Bunga di Kotabaru melonjak tiga kali dari harga hari biasa: valentine jadi alasan utama.
Ke Gramedia: menelusuri rak kartu, bingung cari ucapan yang paling spesial dan personal
Sementara dompet udah ngambek dipojokan tas: "Saya sudah tidak bisa bernafas lagi!"

satu sebelas wita:
back to reality: hari itu saya jatuh miskin karena valentin
Yang ditaksir pura2 gak tau apa artinya coklat dan kartu: Huh! Cowok Jogja yang NAIF!
Uang menguap bahagiapun tak di dapat. CINTA? apa lagi...

Up to now I am blackmailed by Valentine!
Still a victim but what can I say?
cinta seharusnya diberikan gratis!
tanpa bunga....apalagi cokelat dan kartu!

Canggu: 140220110221

BB dari kacamata sosial seorang Danielle


Seminggu ini sudah ada tiga teman yang tanpa tedeng aling-aling menanyakan nomor PIN. Saya agak terganggu tiap ada pertanyaan ini, mbok ya ditanya dulu saya pakai telepon genggam merk apa. Tapi mungkin saya yang menjadi aneh, karena pertanyaan itu mungkin sudah lazim. Salah sendiri hari gini gak pake BB? Hehehehehe…

Ah BB, betapa fenomenalnya dirimu…Saya masih ingat empat tahun yang lalu ketika bekerja di sebuah hotel elite di Jakarta. Saya baru melihat alat komunikasi ini digenggam oleh tamu-tamu saya. Pasti harganya mahal ya, wong bayar kamarnya aja empat jutaan. Tapi saya agak sebel juga, karena setiap keramahtamahan saya dibalas dengan tetap menunduk dan tatapan tertuju pada alat itu. Wah, saya dianggap invisible rupanya.

Hingga tidak beberapa lama Research in Motion mulai menancapkan bisnisnya di Indonesia, setiap hari para pejabat RIM sliwar-sliwer, datang dan pergi di hotel saya. Bahkan saya pernah dititipi selusin BB untuk diberikan ke sebut saja “Bapak A”. Sejak itu maka menjalarlah para pengguna BB di kantor saya. Dari sales marketing team yang memang wajib memakai BB sampai room attendant tidak lepas dari BB saat bekerja.

Secara sosial, saya menolak keberadaan BB ini. Dan ketakutan saya pun terjadi, semua orang yang berpapasan dengan saya di koridor menjadi seperti Zombie, berjalan sambil menunduk, tatapan terpaku pada BB di tangan. Pada saat saya menyapa, mereka mendongak sebentar, tersenyum sedetik, dan menundukan kepala kembali, seolah-olah tidak mau tertinggal satu detikpun aktivitas di dalam BB mereka itu. Terus terang saya jengkel, saya seperti invisible. Jabat tangan, tepukan kecil di punggung sudah diganti dengan aktivitas nirkabel seperti: “poke”, “ping”, atau “buzz”. Mereka adalah zombie dan saya hantu gentayangan di koridor. Hehehehehehe….

Wah hebat juga pemasaran orang-orang Research in Motion ini, BB menggurita dan merambah masyarakat secara lintas sosial dan budaya. Saya hampir saja membeli BB jika suatu sore tidak terjadi kecelakaan kecil itu. Pada saat saya selesai berbelanja, saya ditabrak seorang Ibu di depan gerai Kemchick. Saya tidak akan murka jika saya tidak melihat BB berwarna putih di genggaman Ibu itu. Dan pada akhirnya Ibu itu mendapat kuliah gratis tentang sosiologi dan saya mendapat bayaran permintaan maaf. Hahahahaha…. Coba bayangkan jika ibu itu sedang mengendarai mobil, bahayanya akan lebih besar bahkan bisa merenggut nyawa, hanya karena Ibu itu selalu BBMan (mungkin Ibu itu sedang arisan dengan cara BBMan, dengan begitu mereka jadi irit tempat dan biaya konsumsi)

Setelah kejadian itu, pikiran saya menjalar pada nasib generasi muda kita nanti (duh jauh amat yak?) Kalau para Ibu ini berat ke BBM daripada bersosialisasi langsung dengan anak, bisa jadi para balita nanti lebih cepat bisa mengetik daripada berbicara atau berjalan. Hehehehehe ekstrim memang. Silaturahmi secara spasial diganti dengan jaringan sosial tanpa kabel yang hanya 10x15 centi. Wuuuih begitu mengkerutnya kehidupan manusia sekarang ini.  Ah saya rindu untuk berkunjung dan membawa buah tangan daripada sekedar menekan tombol “ping”, “poke”, atau “buzz”.

Ini adalah surat terbuka saya untuk para sahabat supaya tidak lagi bertanya berapa PIN saya. Karena saya tidak akan pernah menjadi pengguna BB. Hehehehehe…saya sudah melihat beberapa teman saya tersenyum kecut atau mengangkat alis dan menganggap saya gila. Tidak apa-apa, karena saya bukan bagian masyarakat yang gumunan (mengambil istilah mas Kris Budiman). Ah BB, betapa fenomenalnya dirimu.

"Long Live The Gumunans"

Saturday, October 23, 2010

Beragama Belum Tentu Berakhlak Baik



Apakah dengan saya beragama itu menjamin saya berakhlak baik? Saya berani menjawab tidak menjamin. Bahkan akhlak dan agama tidak berbanding lurus dalam diri saya sebagai manusia, masing-masing punya urusannya sendiri-sendiri (bahkan seringkali bentrok di bathin saya). Dibawah ini adalah sharing iman saya tentang akhlak dan agama:

Suatu malam ketika saya sedang Malas On Duty, seorang pria Jepang tergopoh-gopoh sambil memegangi tangannya. Jejak darah berceceran dari pitu masuk hingga area lobby. Rupanya telapak tangannya terbelah karena dia harus menahan pedang yang digenggam oleh seorang penjambret yang berusaha menjambret tas istrinya.

Seketika saya membawa pria jepang itu ke rumah sakit. Seperti yang sudah-sudah terjadi di rumah sakit manapun di Indonesia, pria Jepang itu ditangani sekedarnya dan diwajibkan memenui kelengkapan administrasi untuk mendapatkan perawatan yang lebih "serius". Proses administrasi tersebut terhenti pada kolom agama. Saya bertanya, "What is your religion?" Pria Jepang itu menggeleng lemah. Dia menjawab,

"Di negara kami, pemerintah tidak mewajibkan warga negaranya untuk beragama, tapi negara kami aman. Di negara Anda semua orang harus beragama, tapi tiap orangnya saling menyakiti."


Seketika saya terhenyak, bathin saya tercabik. Malu itu sudah pasti. Padahal dia dalam keadaan lemah dan tatapan kosong, bicara dengan lembut dan tanpa emosi. Khas orang Jepang. Tapi saya tidak tahu di dalam bathinnya terlukis sebongkah kekecewaan. Mungkin.

Dari sekelumit kisah diatas tanpa harus saya ceritakan detilnya (saya akhirnya menulis sekenanya agama yang dia anut dan saya menulis: (possibly) Bhuddist...) saya mendapat pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini. Bahwa agama tidak berbanding lurus dengan perbuatan kita, contoh kasus, orang yang menjambret tadi pasti di KTP-nya punya agama. Sementara keamanan yang dikeluhkan pria Jepang tadi, itu jadi urusan negara saja, saya tidak mau pusing (maaf, seharusnya itu juga menjadi tanggung jawab individu sih, tapi sangat menyenangkan untuk saat ini jika saya menyalahkan aparat negara *nyengir)

Agama bisa jadi hanya label, pagar, atau bungkus yang masih bisa dilepas, diterobos, dan dibuang ketempat sampah pada saat sisi kemanusiaan tergantikan dengan naluri (bentuknya bisa bermacam-macam: naluri untuk bertahan hidup, berbuat jahat, berbuat mesum, atau mau naluri menjadi munafik juga boleh) Tapi yang pasti, kita tidak bisa bohong sama kata hati, hati nurani, spiritual kita yang tak henti-henti mengingatkan tentang kebenaran dan kebaikan. Hanya saja suara peringatan tersebut kadang begitu lemah, terhimpit oleh berbagai kepentingan, jadi jarang terdengar.

Belajar memperkaya spiritualitas dengan kebaikan dan etika sepertinya tidak perlu sampai ke Yunani. Kita tinggal mengunjungi bathin kita dan berkaca pada realitas disekitar kita. Banyak pelajaran yang bisa kita petik. Sesekali tengoklah sisi spiritual kita. dengan rendah hati kita berkunjung dan minta maaf karena kita jarang merawat dan menyuburkan nurani. Saya jadi teringat kalimat yang terus menerus saya ucapkan sejak jaman kuliah dulu. Dan kalimat ini yang membuat saya diusir dari kelas Filsafat khususnya mata kuliah Pengantar Logika I (inget banget deh)

"Lebih baik saya menjadi Atheist tapi saya Humanist daripada demi nama Allah saya membunuh manusia"

Saya pikir Tuhan juga tidak akan setuju dibela dengan cara seperti itu....











Tuesday, April 06, 2010

Jawaban Terhadap Tulisan Kak Frans Tentang Menikah Beda Suku




Tulisan Frans. Nadeak di Face Book:

Dalam beberapa minggu ini, beberapa sahabat sengaja menemuiku untuk berbagi cerita, pengalaman, dan persepsi tentang menikah beda suku ini. Sebetulnya masih ada tentang beda agama atau beda keyakinan beragama. Karena walaupun berbeda permasalahannya, tapi secara prinsip, bagaimana seseorang menyikapi perbedaan, terutama dalam hal pernikahan sama saja.

Terlontar pendapat bahwa menikah sepasang manusia berbeda suku atau agama adalah sangat menyulitkan dan seperti 'cinta terlarang'. Mengapa pendapat dan anggapan ini terpatri dalam pikiran dan batin banyak orang?
:-)


Sebenarnya adalah hal yang wajar jika orangtua tidak langsung mengamini anaknya menikah dengan seseorang yang berbeda suku. Adalah hal yang biasa seorang agak dingin dengan suatu budaya tertentu. Tapi apakah kita harus tetap dingin? Apakah kita harus menjadi orang yang tidak terbuka? Apakah kita harus menutup diri kepada orang lain, kepada yang berbeda dengan kita?

Dan bahasan kita adalah masih mengenai hal yang sepantasnya diketahui atau disadari sepasang manusia yang mau menikah, bukan hal yang dihadapi dalam pernikahan. Karena ketika sepasang manusia menikah, jauh lebih banyak hal yang dihadapi dari yang mampu dipikirkan sebelumnya. Kalau hal itu disebut 'masalah', maka itu menjadi masalah bagi orang itu. Kalau hal itu disebut sebagai tantangan membuat sepasang manusia itu untuk bertumbuh dan tangguh, maka jadilah seperti itu - membuat manusia bertumbuh dan semakin tangguh.

Saya sering membayangkan keinginan menikah berbeda suku (agama) ini dengan mendaki gunung. Umpama saja, jika sepasang manusia sama suku, sama kultur dan banyak kesamaan lainnya, maka mereka seperti mau mendaki gunung setinggi 3.500 meter. Lalu jika sepasang manusia yang berbeda suku, berbeda kultur (tapi kita jangan lupa juga, bahwa persamaan mereka juga pasti sangat banyak), maka mereka seperti mau mendaki gunung setinggi 7.000 meter.

Tentu, jika mau mendaki gunung setinggi 3.500 meter dan setinggi 7.000 meter, maka persiapan segala hal pun pasti berbeda. Tantangan, kesulitan, kebingungan, dan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan lebih tinggi, lebih sering, dan lebih banyak ditemui jika mendaki gunung yang 7.000 meter.

* * *

Sebenarnya masih ada keuntungan atau kelebihan lain jika sepasang manusia menikah beda suku atau kultur dibanding yang satu kultur.Tentu segala hal yang tidak dimiliki seseorang yang ada pada pasangannya, menjadi lahan yang baru untuk mengembangkan dirinya, Ini termasuk semua hal yang berhubungan dengan budaya: tradisi, ritual, adat, dan bahasa. Kita ambil misalnya satu saja, bahasa. Jika kedua suku itu memiliki bahasa masing-masing dan masing-masing insan yang mau menikah ini mempelajari bahasa pasangan lainnya, dan sampai bisa berbahasa pasangannya, maka dia memperoleh kelebihan dan hal yang tak ternilai tersendiri.

Bahasa adalah pintu gerbang untuk memasuki suatu budaya. Mempelajari bahasa artinya mempelajari budaya itu sendiri. Dan kalau dimaknai secara luas, kalau kita belajar matematika berarti kita belajar bahasa matematika. Kalau kita belajar sesuatu maka kita belajar bahasa sesuatu itu, apa pun sesuatu itu.

* * *

Kita bayangkan jika sepasang manusia yang kebetulan berbeda suku mau merajut pernikahan, maka tentu persiapan dan segala seluk beluknya adalah tidak semudah sepasang manusia yang mau menikah yang kebetulan satu suku, satu kultur.

Saya memiliki kenalan dekat yang menikah berbeda suku dan agama. Suami, Batak campuran Pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatra) beragama Islam dan istri Jawa beragama Katolik. Saya sudah melihat keluarga ini, bukan lagi terombang-ambing, tapi sudah tergolong luar biasa. Sang suami selalu ikut dalam acara misa malam Natal, misa malam Paskah, dan peristiwa besar lainnya. Bahkan sering dalam acara misa hari Minggu, sang suami ikut di dalam gereja dengan penuh hikmat. Bukan hanya duduk di mobil atau di suatu tempat merokok atau minum kopi sembari menanti acara misa selesai lalu pulang bersama. Tidak. Sang suami terlibat dan turut mencoba mempelajari, mencoba mengalami peristiwa-peristiwa yang agung. Apa lagi yang mau kita katakan dengan seorang laki-laki yang seperti ini?

Tapi, saya sendiri memiliki kekaguman tersendiri jika ada sepasang manusia yang berniat tulus dan tekun untuk menikah berbeda suku, agama, bahkan berbeda hal-hal lain. Menikah satu suku adalah biasa saja. Boleh disebut, tantangannya tidak sehebat sepasang yang berbeda kultur. Orang yang menikah dengan semakin banyak perbedaan, bisa digambarkan sebagai memiliki semakin banyak keberanian.

Bukankah perempuan dan laki-laki menikah justru karena mereka berbeda?

Memang yang penting masing-masing pasangan itu sudah mengetahu bahwa pasangannya bukanlah penipu. Tentang penipu ini saya teringat akan perkataan seorang psikolog, Charles Lowery,

Dari semua orang yang hidup di bumi ini, penipu yang paling utama di dunia ini adalah orang yang mendekati seseorang dengan tujuan menikahinya. Orang seperti ini bukan saja bersikap sebaik mungkin, tetapi mereka berpenampilan sangat rapi, dan menjaga tinggkah laku dan penampilannya selama proses itu masih berlangsung. Inilah salah satu alasan mengapa orang-orang yang didekati yang bijaksana, akan menunggu selama dua tahun sebelum bersedia dinikahi.



Psikolog lain berkata dua tahun adalah waktu yang cukup untuk memunculkan karakter asli seseorang, bahkan psikolog lain berkata, kadang-kadang waktu dua tahun masih terburu-buru.

Dan jika sudah diketahui, bahwa pasangannya, bukan penipu, hal yang sangat fundamental lagi, bisakah orangnya melakukan komitmen? Komitmen bukan saat pengungkapan janji, ikrar, atau pun sumpah. Komitmen adalah justru sesaat setelah janji, ikrar, atau sumpah itu diucapkan. Apalah yang dapat dipercaya dari seseorang yang tidak berkomitmen?
:-)

* * *

Kembali tentang mendaki gunung tadi. Semakin banyak perbedaan pasangan yang mau menikah, maka semakin tinggi gunung yang akan didaki. Maka akan sangat indah dan menakjubkan jika kita mengingat orang Selandia Baru, Sir Edmund Hillary. Kisah Sir Edmund Hillary adalah mengagumkan ketika menaklukkan Gunung Mount Everest, gunung tertinggi di bumi ini. Sir Edmund Hillary adalah orang pertama yang mendaki gunung tertinggi di dunia pada 29 Mei 1953.

Kisah menegangkan tentang persahabatan, kepercayaan, bahkan nyawa terjadi saat pendakian itu. Edmund Hillary ditemani penunjuk jalan, seorang Nepal, Tenzing Norgay. Suatu saat ketika mereka sedang turun, Hillary kehilangan keseimbangan, dan Tenzing menahan tali ikatan mereka dengan sangat kuat untuk menghindari mereka jatuh ke kematian dengan memukul kapak esnya sekuatnya ke dinding es.

Ketika ditanya kemudian kepada Tenzing tentang itu, ia menolak pujian yang berlebihan karena menyelamatkan nyawa Edmund Hillary, Tenzing mengatakan yang sederhana tapi filosofi dari kehidupan, dan pasti filosofi pernikahan, "Para pendaki gunung selalu saling menolong."

Dan ketika Sir Edmung Hillary berkeliling dunia karena aksi dan karyanya dan mendapat berbagi penghormatan dan penghargaan, dia berkata, "Ketika mendaki, kita tidak menaklukkan gunung, tapi menaklukkan diri sendiri."

http://www.facebook.com/profile.php?v=app_2347471856&ref=profile&id=657426308#!/notes/frans-nadeak/menikah-beda-suku/413911590539



Tanggapan sahaya:

Ini spektrumnya bisa berbeda beda di tiap tiap orang karena "Pendakian" perbedaan yang melibatkan perasaan antar pribadi belum ada manual booknya. Jadi saya tidak bisa mengamini pendapat Kak Frans. Apa Kak Frans pernah masuk ke dalam situasi ini sehingga Kak Frans bisa berpendapat seperti di atas? Saya ingin tahu kesimpulannya. Happy ending atau sad ending?

Pernahkah kak Frans menyelami perasaan suami muslim yang selalu menemani istrinya dalam kegiatan gereja, apa sebenarnya yang dia rasakan? Apa perlakuan ini berlaku sebaliknya di pihak suami? Sang Istri menemani suami ke masjid dan pengajian? Saya pikir fleksibilitas suatu sistem tertentu akan menyulitkan ini. Bahkan yang mucul adalah sebuah "Arogansi Rohani" terhadap toleransi yang ditunjukkan sang suami. Kelebihan dari pernikahan beda suku dan agama yang disebutkan Kak Frans di atas lebih pada benefit secara artifisial tapi tidak menyentuh substansi. Bahwa apa yang dijalani oleh pasangan berbeda suku dan agama ini benar benar menyenangkan mereka secara bathin? Apakah jiwa mereka merasa begitu bebas dalam menjalani yang disebut toleransi? Kak Frans mungkin bisa berkata demikian karena Kak Frans melihatnya dari luar lingkaran (seandainya saja hipotesa ini bisa lebih diperdalam lagi dengan mengadakan wawancara langsung dengan sang pelaku saya sungguh sangat senang, hehehehe)

Dari pola yang saya lihat tentang pasangan beda suku dan agama selain pemaparan kak Frans di atas, saya mendapati ada beberapa pasangan yang memilih (dalam hal ini beda agama) untuk tidak menjadi praktikan dalam komunitas beragama mereka. mereka memilih bersikap netral dengan menuai resiko hujatan dari kedua belah pihak komunitas mereka. Well, sesuatu harus tetap dipilih kan?

Saya sangat suka dengan cerita Kak Frans tentang Sir Edmun Hillary dengan orang Nepal itu. Bahwa seharusnyalah hakikat perbedaan itu ditanggalkan dan mendefinisikan manusia bahwa dia adalah individu yang hakiki, universal dan humanis. titik. tidak ada budaya, agama, bahkan konsep Tuhan (masing2) sangat tidak Pancasilais untuk warga negara Indonesia memang, mungkin saya akan di cap atheis. Tapi memang inilah eksistensinya. Pada saat menghadapi hidup dan mati, semua label yang menempel pada diri kita akan gugur dan yang tertinggal hanyalah kemanusiaan.

http://www.facebook.com/profile.php?v=app_2347471856&ref=profile&id=657426308#!/notes/danielle-woro/jawaban-terhadap-tulisan-kak-frans-tentang-menikah-beda-suku/379186229085