Showing posts with label stories. Show all posts
Showing posts with label stories. Show all posts

Sunday, December 28, 2008

Story of Schyzophrenia #4

Gadis Kecil dalam diriku.
Gadis kecil dalam diriku menangis minta tolong.
Entah apa yang harus kulakukan.
Aku telah mencoba tapi tak dapat membantunya.
Rasanya kuingin terus menyembunyikannya
di dalam ruang besar yang gelap dan dingin itu.
Dan membiarkannya disana.
Menghapuskannya dari diriku membuatku merasasedih dan marah.
Meskipun ia adalah bagian dariku.
Aku menganggapnya sebagai orang asing.
Aku berada dalam penyangkalan.
Bahwa peristiwa yang terjadi, terjadi padanya. Bukan padaku.
Aku tak berdaya saat itu. dan masih tak berdaya saat ini.
Aku dapat melihatnya sejelas sinar cahaya.
Melihat kepedihannya,
Ketakutannya,
Serta kesedihannya.
Dan aku tak mampu berbuat apa-apa.

Saturday, December 20, 2008

Story of Schyzophrenia #3

Hancur Berkeping-keping.
Gadis kecil dalam diriku hancur berkeping-keping.
Tak mengerti apa yang terjadi.
Kucoba menyelamatkan dan mencinatinya.
Kuberikan keberanian agar dapat berjuang.
Namun kurasakan kegelisahannya.
Dan juga getarannya.
Ia muak. Sangat muak.
Ia merasa hancur.
Tak mengerti apa yang harus dilakukan.
Semua yang telah ia alami tak dapat dia tahan lagi.
Aku rasakan gejolaknya.
Aku bagaikan Sang Ibu dan ia Putriku.
Ia harus berjuang untuk hidup.
Tapi sayang, ia terperangkap dalam tubuhku yang hampa.......

Story of Schyzophrenia #2

Gadis Kecil Menangis.

Ada gadis kecil menangis dalam diriku.
Kuharus Menolongnya!
Ia terus menghantuiku.
Masa lalu menyergapku.
Saat ini ia begitu menderita.
Selama ini ia kusembunyikan.
Bahkan ia kusakiti.
Dan juga kusingkirkan.
Kini aku berusaha untuk melepaskannya.
Dan mengembangkan sayapnya.

Saturday, January 05, 2008

Retak Kepribadian: Story of Schyzophrenia #1

:Puthea

Panah pikiranku melesat cepat menelusuri lekuk-lekuk otakku.
Menerabas syaraf yang berpendar yang selama ini menjadi biang vertigo dan migrenku. Menghujam akar-akar pemikiranku yang selama ini membuat kepalaku berdenyut.
Menjelajah relung-relung dan berakhir pada ruang yang gelap.

Disana kutemukan sosok perempuan yang sendiri menatapku:
"Aku adalah kau disaat-saat hampa. Hatiku sesak dan tubuhku terbebat. Manakala kau memeras otakmu dan menyerap semua sari keceriaanku. Aku terhimpit dengan beban-beban ide dan teracuni dengan buah pikiran yang pahit. Aku rindu kamu melupakan hal-hal dan lebih memperhatikan detil-detil kecil yang remeh temeh. Hal-hal yang tidak membuat urat dahimu berkerut tapi menarik syaraf-syaraf di ujung bibirmu menjadi senyuman. Aku merindukanmu."

"Aku juga meridukanmu," jawabku.
"Kamu merindukan siapa, Danielle?" Sebuah suara melemparku pada kenyataan. Di depanku duduk seorang pria dan kami berada di hiruk pikuk kantin.
"Maaf kupikir kau orang lain." Dan akupun berlalu....

Wednesday, January 10, 2007

Dermaga Kosong



Sore itu, perempuan kurus berambut pendek berdiri di dermaga. Dermaga yang oleh para pelaut tidak pernah dituju. Entah mengapa mereka enggan untuk menambatkan kapalnya. Kalaupun harus bersandar mereka tidak mau berlama-lama. Begitu mereka menambatkan kapalnya, mereka hanya menyusuri kota sebentar dan tiba-tiba behenti kemudian berbalik arah menuju dermaga dan menarik sauh mereka kembali. Tidak satupun dari para pelaut itu yang menyelesaikan petualangan mereka di kota itu. Satu demi satu mereka menjauh dan memilih untuk menjauh diam-diam. Sepertinya ada yang salah dengan kota itu. Salah satu pelaut mengatakan bahwa di kota itu panuh dengan kejadian aneh. Gejala yang muncul seketika tanpa pernah diduga.
“Jika suatu hari terjadi hujan, maka kita akan merasakan panasnya aspal membakar telapak kakimu layaknya terik di siang hari.” Kata seorang pelaut.
“Kau tahu apa yang kualami? Waktu itu matahari tepat di atas kepalaku, tapi jalanan basah dan becek seperti banjir yang baru surut Selayaknya adalah aku kepanasan terpanggang matahari hingga aku pingsan!”
“Aku pernah melihat segerombolan burung camar di langit yang hujan lebat. Ada cahaya petir berkelebat tapi mereka nampak tidak khawatir menuju sarang seolah-olah langit sedang cerah!”
“Aneh, dua gejala yang sangat bertolak belakang terjadi dalam sesaat. Itu tidak mungkin. Dan lebih tidak mungkin lagi jika kita hidup disini. Jiwa kita akan lelah...”
Dan selelah itu pulalah wajah kota tersebut. Menjalani kejadian-kejadian yang saling bertabrakan setiap harinya. Ingin rasanya perempuan itu menghentikan kekacauan ini. Paling tidak, jika kekacauan itu terhenti, maka terhenti pulalah kekacauan hidupnya. Tapi apa mau dikata, kota itu sudah dikutuk untuk memiliki jiwa yang mendua dan saling bertolak belakang. Dan perempuan kurus berambut pendek itu hidup di dalamnya.
“Aku ingin melihat gelap dan terang berdampingan,” Kata perempuan itu suatu sore.
“Setiap hari aku melihatnya di langit itu, di ujung lautan.” Katanya sambil menunjuk ke dermaga.
“Setiap sore mereka bertemu, gelap dan terang berdampingan.” Sambungnya. “Tapi bukankah sepantasnyalah di sore hari gelap datang menggantikan terang?” Tanya seorang pelaut muda yang baru pertama kali singgah di kota itu.
“Tidak, gelap menyusul terang dan tinggal bersama-sama. Atau gelap datang terlebih dahulu sebelum terang dan akhirnya mereka bersanding. Kadang-kadang mereka datang bersama-sama dan selalu berdampingan. Yang pasti mereka selalu ada bersama dan tidak saling menggantikan. Oleh sebab itu pada saat yang sama aku bisa memilih tinggal dalam gelap atau terang. Jika aku tidak tinggal disini, setiap sore aku hanya pasrah menerima kegelapan. Disini aku bebas memilih. Hari ini aku pilih gelap. Besok aku mungkin tinggal dalam terang. Lain hari lagi kau bisa menemukanku di kegelapan.”
“Lihatlah langit itu, seperti panggung teater yang gelap yang dibelah oleh sorot lampu yang terang. Indah bukan? Jika kamu ingin menjadi aktor kehidupan, berdirilah di tempat terang. Tetapi jika kamu ingin berkarya di balik panggung, buat karyamu di kegelapan.”
“Hidupmu pasti menarik sekali!” Petualang bodoh itu berkomentar.
“Menurutmu begitu? Mungkin orang lain melihatnya begitu. Tapi coba kau renungkan, aku melihat segala bentuk dalam sekejap mata. Aku harus menghirup semua sari dalam satu tarikan napas. Semuanya harus kurasakan sekaligus dalam hitungan detik. Aku harus melakukan banyak hal dalam satu jentikan jari. Itu artinya aku harus memiliki hati seluas samudera untuk bisa menampung semua itu.”
Pelaut muda itu berusaha merenungkannya. Dahinya tetap berkerut kala perempuan kurus berambut pendek itu berlalu daripadanya. Jadi petualangan di laut jauh lebih menyenangkan daripada kota pelabuhan ini? Dan pelaut tolol itu pun mengangkat sauh diam-diam walaupun hatinya tertambat diam-diam pada perempuan itu.